WELCOME TO MY BLOG

WELCOME TO MY BLOG

Jumat, 28 Oktober 2011

pembelahan sel pada tumbuhan


BAB I
PENDAHULUAN

Pembelahan sel secara tidak langsung adalah pembelahan sel melalui tahapan-tahapan tertentu. Tahapan-tahapan pembelahan itu ditandai dengan penampakan yang berbeda-beda dari kromosom yang dikandungnya. Sebagaimana diketahui, di dalam inti sel terdapat benang-benang kromatin. Benang-benang kromatin ini dapat menyerap zat pewarna lebih banyak sehingga bila diamati dengan mikroskop tampak lebih jelas. Kaetika sel akan membelah diri, benang-benang kromatin ini menebal dan memendek, yang kemudian disebut kromosom. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kromosom merupakan benang pembawa sifat yang di dalamnya terdapat gen.
Pada waktu sel sedang membelah dirri, terjadi proses pembagian kromosom di dalamnya. Tingkah laku kromosom selama sel membelah dibedakan menjadi fase-fase pembelahan sel. Oleh karena pembelahan terjadi melalui fase-fase itulah maka disebut sebagai pembelahan sel secara tidak langsung. Pada dasarnya, pembelahan sel secara tidak langsung dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu pembelahan mitosis dan meiosis. (Sulisetijono,2004:82)
Setiap sifat pada makhluk hidup dikendalikan oleh faktor keturunan yang disebut gen. gen terdapat dalam lokus tertentu di dalam kromosom, sedangkan kromosom terdapat di dalam nukleus (inti sel). Kromosom yang berpasang-pasangan disebut kromosom homolog, sedangkan pasangan gen disebut alel. Kromosom mulai tampak sesaat ketika sel akan membelah dan selama proses pembelahan.










BAB II
PEMBAHASAN

A.TERJADINYA PEMBELAHAN PADA SEL
Pembelahan sel secara tidak langsung adalah pembelahan sel melalui tahapan-tahapan tertentu. Tahapan-tahapan pembelahan itu ditandai dengan penampakan yang berbeda-beda dari kromosom yang dikandungnya. Sebagaimana diketahui, di dalam inti sel terdapat benang-benang kromatin. Benang-benang kromatin ini dapat menyerap zat pewarna lebih banyak sehingga bila diamati dengan mikroskop tampak lebih jelas. Ketika sel akan membelah diri, benang-benang kromatin ini menebal dan memendek, yang kemudian disebut kromosom. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kromosom merupakan benang pembawa sifat yang di dalamnya terdapat gen.
Pada waktu sel sedang membelah diri, terjadi proses pembagian kromosom di dalamnya. Tingkah laku kromosom selama sel membelah dibedakan menjadi fase-fase pembelahan sel. Pada dasarnya, pembelahan sel  dibedakan menjadi dua macam, yaitu pembelahan mitosis dan meiosis. (Sulisetijono,2004:82)
B. PEMBELAHAN SECARA MITOSIS
Pembelahan mitosis adalah pembelahan sel yang terjadi apabila sel anak mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan jumlah kromosom sel induknya. Mitosis hanya terjadi pada sel eukariotik dan pembelahan mitosis terjadi pada sel somatic (sel penyusun tubuh). Pembelahan mitosis terdiri atas pembelahan inti dan pembelahan sitoplasma.
Pada sel-sel organisme multiseluler, proses pembelahan sel memiliki tahap-tahap tertentu yang disebut siklus sel. Sel-sel tubuh yang aktif melakukan pembelahan memiliki siklus sel yang lengkap. Siklus sel tersebut dibedakan menjadi dua fase (tahap) utama, yaitu interfase dan mitosis.
1.        Interfase
Merupakan tahap terlama dari siklus sel. interfase bukanlah fase dari suatu pembelahan sel, tetapi merupakan fase antara mitosis yang satu dengan mitosis berikutnya. Interfase ini terjadi beberapa tahap atau fase, yakni fase G1, S, dan G2.  pada tahap G1, S, dan G2 terjadi pembentukan organel secara terus menerus. Fase G1 merupakan awal dari interfase, sedangkan fase G2 merupakan tahap akhir dari interfase menjelang mitosis. Pada tahap S, disamping terjadi pembentukan organel juga terjadi sintesis ADN atau duplikasi ADN.
2.        Mitosis
Proses pembelahan mitosis terjadi melalui beberapa tahap yaitu :
a.    Profase
Fase ini merupakan fase terlama dan fase yang paling banyak memerlukan energi. Dalam hal ini, energi-energi tersebut digunakan untuk membentuk perlengkapan pembelahan sel. Dalam profase terjadi beberapa peristiwa penting, yaitu sebagai berikut ;
·           Benang-benang kromatin di dalam nucleus memendek dan menebal, yang disebut dengan kromosom.
·           Selaput inti serta nucleolus yang terdapat didalam inti sel menghilang atau lenyap.
·           Kromosom membelah menjadi dua benang baru masing-masing disebut kromatid. Ada bagian tertentu dari sepasang kromatid saling berlekatan yang disebut sentromer.
·           Sentromer membelah menjadi dua. Masing-masing belahan bergerak menuju kearah kutun yang berlawanan.
·           Dari setiap sentrosom, terbentuk benag-bengan spindle, sehingga terbentuk gelondong pembelahan yang menyerupai suatu pancaran bintang yang disebut aster.
·           Benag-benang spindle yang keluar dari sentriol pada tiap kutup sel memegang tiap kromosom tepat pada sentromernya.

b.        Metafase
Kromosom yang telah membelah menjadi dua kromatid memanjang dan sentromernya mengatur diri dibidang pembelahan sel atau bidang ekuatorial dan menuju ke tengah sel. Selanjutnya menggantung pada serat gelondong melalui sentromer atau kinotokor.
c.         Anafase
·           Kromosom telah menjadi dua kromatid. Tiap kromatid melepaskan diri dari kromatid pasangannya. Setiap kromatid mempunyai bagian yang tidak menyerap warna, disebut sentromer.
·           Setiap benang spindle memegang satu kromatid tepat pada sentromer.
·           Benang-bengang spindle selanjutnya menarik tiap kromatid, sehingga kromatid yang melepaskan diri dari pasangannya masing-masing bergerak kearah kutub yang berlawanan.
d.        Telofase
Setelah benang-benang kromatid ampai dikutub maka dia akan lenyap dan berubah menjadi benang kromatin. Benang-benang kromatin yang terkumpul dikutub yang berlawanan itu selanjutnya akan terlindung oleh selaput dan membentuk inti sel.
Sementara itu, dibidang pembelahan atau bidang ekuatorial terbentuklah penebalan plasma. Plasma yang menebal ini selanjutnya akan berfungsi selaput pemisah sitoplasma. Akibatnya sitoplasma akan terbagi menjaadi dua, peristiwa ini disebut sitokinesis.
Masing-masing bagian sitoplasma itu membentuk satu sel baru, sehingga dalam peristiwa sitokinesis ini setiap sel menghasilkan dua sel baru. Sel anak yang baru tersebut mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan jumlah kromosom sel asalnya.
GAMBAR. Fase-Fase Pembelahan Mitosis

              





C. PEMBELAHAN SECARA MEOSIS
Meosis adalah salah satu cara sel untuk mengalami pembelahan. Meiosis hanya terjadi pada fase reproduksi seksual atau pada jaringan nuftah. Pada meiosis, terjadi perpasangan dari kromosom homolog serta terjadi pengurangan jumlah kromosom induk terhadap sel anak. Disamping itu, pada meiosis terjadi dua kali periode pembelahan sel, yaitu pembelahan I (meiosis I) dan pembelahan II (meiosis II)
1.        Miosis I
1.        Profase I
ü  leptoten: benang-benang kromatn menebal menjadi kromosom
ü  zigonema: kromosom yang homolog atau yang sama bentuknya mulai berpasangan, kedua sentriol bergerak menuju kekutub yang berlawanan.
ü  Pakinema: tiap kromosom menebal dan mengganda menjadi dua kromatid dengan satu sentromer.
ü  Diplonema: kromatid membesar dan memendek, bergandengan yang homolog dan menjadi raat.
ü  Diakinesis: ditandai dengan adanya pindah silang dari baggian kromosom yang telah mengalami duplikasi. Sentriol berpisah menuju kutub yang berlawanan, terbentuk serat gelondong diantara dua kutub.
2.        Metafase I
Pada tahap ini, tetrad menempatkan dirinya pada bidang ekuator. Membrane inti sudah tidak tampak lagi dan sentromer terikat oleh spindel pembelahan.
3.        Anafase I
Pada tahap ini, spindel pembelahan memendek dan menarik belahan tetrad (diad) ke kutub sel berlawanan sehingga kromosom homolog dipisahkan. Kromosom hasil crossing over yang bergerak ke kutub sel membawa materi genetic yang berbeda.
4.        Telofase I
Pada tahap ini, membrane sel membentuk sekat sehingga terbentuk dua sel anak yang bersifat haploid, tetapi setiap kromosom masih mengandung dua kromatid (siser cromatid) yang terhubung melalui sentromer.
b. Miosis II
1. Profase II
·           Benang-benang kromatin berubah kembali menjadi kromosom.
·           Kromosom yang terdiri dari 2 kromatida tidak mengalami duplikasi lagi.
·           Nucleolus dan dinding inti menghilang.
·           Sentriol berpisah menuju kutub yang berlawanan.
·           Serat-serat gelendong terbentuk diantara 2 kutub pembelahan.
2. Metafase II
Kromosom kebidang ekuator menggantung pada serat gelendong melalui sentromernya. 3. Anafase II
Kromatida berpisah dari homolognya, dan bergerak menuju ke kutub yang berlawanan. 4. Telofase II
a.    Kromosom berubah menjadi benang-benang kromatin kembali.
b.    Nucleolus dan dinding inti terbentuk kembali.
c.    Serat-serat gelendong menghilang dan terbentuk sentrosom kembali.
Hasil meosis:
1.      Satu sel induk yang diploid (2n) menjadi 4 sel anakan yang masing – masing haploid (n)
2.       Jumlah kromosom sel anak setengah dari jumlah kromosom sel induknya.
3.      Pembelahan meiosis hanya terjadi pada sel-sel generative atau sel-sel gamet seperti sperma dan ovum (sel telur).

Meosis I
  
Meosis II 
D. PENYIMPANGAN DALAM PEMBELAHAN SEL
Secara normal, pembelahan mitosis menghasilkan dua bahan nukleus anak (sel anak) dengan perangkat kromosom yang identik. Di samping itu, kadangkala dapat juga terjadi penyimpangan antara lain :
a. Tetraploidi
Jika sel diberikan kolkisin, maka mitosis tidak dapat berlangsung seperti biasa karena kromosom tidak dapat berpisah menjadi dua kelompok. Dengan demikian, sel yang semula diploid menjadi tetraploid. Hal ini disebabkan karena kolhisin mencegah pembentukan mikrotubulus spindel dan menghancurkan mikrotubulus yang sudah ada. Biji-biji yang berasal dari tumbuhan tetraploid menghasilkan tumbuhan yang lebih besar dan lebih kuat daripada tanaman induknya yang diploid
b.Tumor
Sekelompok sel yang tumbuh dan membelah secara abnormal dapat membentuk tumor (benjolan). Beberapa tumor bersifat jinak, artinya sampai tahap tertentu pertumbuhannya berhenti. Sebaliknya ada pula tumor ganas atau kanker, yang sel-selnya terus menerus tumbuh dan membelah sehingga mendesak dan merusak jaringan yang ada di sekitarnya. Individu yang sel-selnya demikian biasanya tidak berumur panjang. (Wayan Bawa,1998:184-185)
Mutasi adalah perubahan yang terjadi pada bahan genetik (DNA maupun RNA), baik pada taraf urutan gen (disebut mutasi titik) maupun pada taraf kromosom. Mutasi pada tingkat kromosomal biasanya disebut aberasi. Mutasi pada gen dapat mengarah pada munculnya alel baru dan menjadi dasar bagi kalangan pendukung evolusi mengenai munculnya variasi-variasi baru pada spesies. Individu yang memperlihatkan perubahan sifat (fenotipe) akibat mutasi disebut mutan.
Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan mutasi antara lain: :
1.Mutagen bahan kimia, contohnya adalah kolkisin. Kolkisin adalah zat yang dapat menghalangi terbentuknya benang-benang spindel pada proses anafase dan dapat menghambat pembelahan pada sel anafase.
2.Mutagen bahan fisika, contohnya sinar ultraviolet (UV), sinar radioaktif, dll.
3.Mutagen bahan biologi, diduga virus dan bakteri dapat menyebabkan terjadinya mutasi.
Aberasi kromosom atau biasa disebut dengan variasi kromosom merupakan perubahan jumlah susunan atau urutan gen dalam kromosom. Variasi kromosom sering terjadi karena kesalahan meiosis dan dalam mitosis. Terjadinya variasi kromosom biasanya mengakibatkan abnormalitas pada individu.
Aberasi kromosom dibedakan atas aberasi jumlah dan aberasi susunan. Aberasi jumlah yaitu terjadinya aberasi kromosom yang disebabkan oleh adanya perubahan dalam jumlah kromosom sedangkan aberasi susunan merupakan aberasi kromosom yang disebabkan oleh perubahan struktur lengan kromosom.
E. STRUKTUR KROMOSOM
Secara garis besar, struktur kromosom terdiri atas sentromer dan lengan. Sentromer atau kinetokor adalah bagian dari kromosom tempat melekatnya benang-benang sindel yang berperan menggerakkan kromosom selama proses pembelahan sel.
Lengan atau badan kromosom adalah bagian kromosom yang mengandung kromonema. Selubung pembungkus kromonema disebut matriks.
F. UKURAN, BENTUK DAN JUMLAH KROMOSOM
Kromosom yang terdapat di dalam sebuah sel tidak sama ukurannya. Panjang kromosom antara 0.2 hingga 50 mikron dan diameternya antara 0,2 hingga 20 mikron.
Menurut bentuknya, kromosom dibedakan menjadi 6 macam:
 
1.        Bentuk huruf  V
2.    bentuk koma
3.        Bentuk huruf L
4.        Bentuk batang
5.        Bentuk cerutu

Benden dan Boveri (1887) menyatakan bahwa banyaknya kromosom di dalam nukleus dari setiap[ makhluk hidup yang berbeda adalah berlainan, dan jumlah untuk setiap makhluk adalah konstan.
H. POLIPLOIDI
Poliploidi adalah kondisi pada suatu organisme yang memiliki set kromosom (genom) lebih dari sepasang. Organisme yang memiliki keadaan demikian disebut sebagai organisme poliploid. Usaha-usaha yang dilakukan orang untuk menghasilkan organisme poliploid disebut sebagai poliploidisasi.
Organisme hidup pada umumnya memiliki sepasang set kromosom pada sebagian besar tahap hidupnya. Organisme ini disebut diploid (disingkat 2n). Namun demikian, sejumlah organisme pada tahap yang sama memiliki lebih dari sepasang set. Gejala semacam ini dinamakan poliploidi (dari bahasa Yunani berganda). Organisme dengan kondisi demikian disebut poliploid. Tipe poliploid dinamakan tergantung banyaknya set kromosom. Jadi, triploid (3n), tetraploid (4n), pentaploid (5n), heksaploid (6n), dan seterusnya.
Di alam, poliploid dapat terjadi karena kejutan listrik (petir), keadaan lingkungan ekstrem, atau persilangan yang diikuti dengan gangguan pembelahan sel. Poliploidi buatan dapat dilakukan dengan meniru yang terjadi di alam, atau dengan menggunakan mutagen.
Efek Poliploidi Pada Organisme
Poliploidi seringkali memberikan efek dramatis dalam penampilan atau pewarisan sifat yang bisa positif atau negatif. Tumbuhan secara umum bereaksi positif terhadap poliploidi. Tetraploid (misalnya kentang) dan heksaploid (misalnya gandum) berukuran lebih besar (reaksi "gigas", atau "raksasa") daripada leluhurnya yang diploid. Karena hasil panen menjadi lebih tinggi, poliploidi dimanfaatkan dalam pemuliaan tanaman. Berbagai kultivar tanaman hias (misalnya anggrek) dibuat dengan mengeksploitasi poliploidi.
Reaksi negatif terjadi terhadap kemampuan reproduksi, khususnya pada poliploidi berbilangan ganjil, meskipun ukurannya membesar. Karena terjadi ketidakseimbangan pasangan kromosom dalam meiosis, organisme dengan ploidi ganjil biasanya mandul (steril).











BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Pembelahan sel dapat terjadi dengan dua cara yaitu secara mitosis dan meosis. Pada mitosis menghasilakn jumlah kromosom sel anak sama dengan jumlah kromosom sel induknya sedangkan pada meosis jumlah kromosom sel anak separoh dari jumlah kromosom sel induknya.
Secara garis besar, struktur kromosom terdiri atas sentromer dan lengan. Sentromer atau kinetokor adalah bagian dari kromosom tempat melekatnya benang-benang sindel yang berperan menggerakkan kromosom selama proses pembelahan sel.
Lengan atau badan kromosom adalah bagian kromosom yang mengandung kromonema. Selubung pembungkus kromonema disebut matriks.
Menurut bentuknya, kromosom dibedakan menjadi 6 macam:
  1. Bentuk bulat
  2. Bentuk cerutu
  3. Bentuk koma
  4. Bentuk batang
  5. Bentuk huruf  V
  6. Bentuk huruf L
B.       SARAN
Dalam penulisan makalah ini, pemakalah telah mencoba menjelaskan tentang anatomi tumbuhan khususnya mengenai pembelahan mitosis dan meosis pada sel dan kromosom dan poliploidi. Semoga dengan adanya tulisan ini pembaca dapat mengetahui dan memahami tentang susunan dari tumbuhan, sehingga ilmu atau pengetahuan yang diperoleh dari makalah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Selain itu kritikan dan saran sangat diperlukan untuk lebih sempurnanya pembuatan makalah untuk masa mendatang. Akhir kata semoga makalah yang kami susun ini dapat menambah pengetahuan  dan berguna bagi kita semua.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar